Jurnal Medika Hutama http://jurnalmedikahutama.com/index.php/JMH <p>Jurnal Medika Hutama merupakan jurnal hasil penelitian, studi kasus, dan tinjauan pustaka di bidang kajian ilmu-ilmu kesehatan dan kedokteran. Jurnal terbit empat kali dalam setahun (Januari, April, Juli dan Oktober).</p> Yayasan Pendidikan Medika Indonesia en-US Jurnal Medika Hutama 2715-8039 ANALISIS RESISTENSI ANTIBIOTIK DI RSUP WAHIDIN SUDIROHUSODO TAHUN 2023-2024 http://jurnalmedikahutama.com/index.php/JMH/article/view/783 <p>Resistensi antibiotik saat ini menjadi ancaman serius global terhadap efektivitas pengobatan infeksi bakteri, dengan dampak berupa kegagalan pengobatan, kebutuhan obat alternatif yang lebih mahal dan aman, peningkatan angka kesakitan dan kematian, perpanjangan rawat inap, serta biaya layanan kesehatan yang tinggi. Penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran resistensi antibiotik berdasarkan hasil uji sensitivitas (kategori Sensitif, Intermediate, dan Resisten) dari RSUP Wahidin Sudirohusodo pada tahun 2023–2024, serta menganalisis hubungan antara jenis bakteri dan pola resistensinya. Penelitian kuantitatif deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional ini menggunakan data sekunder hasil kultur dan uji sensitivitas antibiotik; sampel dipilih dengan total sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan distribusi bakteri dan pola resistensi yang bervariasi antar rumah sakit; bakteri Gram negatif memperlihatkan resistensi terutama terhadap antibiotik beta-laktam tertentu dan fluorokuinolon, dengan sensitivitas relatif pada karbapenem dan aminoglikosida. Bakteri Gram positif menunjukkan sensitivitas yang baik terhadap vancomycin dan linezolid, namun resistensi terhadap penicillin, makrolida, dan tetrasiklin masih ditemukan pada sebagian isolat. Pada <em>Mycobacterium tuberculosis</em>, sebagian besar isolat sensitif terhadap rifampicin, tetapi terdapat pula respons intermediate dan resisten. Secara keseluruhan, pola resistensi di RSUP Wahidin Sudirohusodo bersifat heterogen dan spesifik terhadap jenis bakteri, sehingga penggunaan data antibiogram lokal penting sebagai dasar pemilihan terapi antibiotik yang rasional.</p> Anandhita ##submission.copyrightStatement## https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-04-29 2026-04-29 7 3 April 1 11 10.66940/jmh.v7i3 April.783 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INDEKS MASSA TUBUH PADA SANTRI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DI PONDOK PESANTREN AMALIAH http://jurnalmedikahutama.com/index.php/JMH/article/view/782 <p>Obesitas pada remaja merupakan masalah gizi yang semakin kompleks karena dapat terjadi bersamaan dengan kekurangan gizi (double burden), sehingga pemetaan faktor yang berhubungan dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) penting dilakukan pada populasi santri. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi IMT pada santri SMP di Pondok Pesantren Amaliah. Metode penelitian menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) pada Januari–Maret 2025 di Pondok Pesantren Amaliah, Desa Datara, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Gowa. Sampel berjumlah 80 santri dari populasi 100 orang, diambil dengan teknik stratified sampling. Data dikumpulkan melalui pengukuran antropometri (berat badan dan tinggi badan) untuk perhitungan IMT serta kuesioner pola makan, aktivitas fisik, faktor genetik, dan lingkungan/gaya hidup; analisis hubungan dilakukan menggunakan uji chi-square dengan batas kemaknaan p&lt;0,05. Hasil menunjukkan mayoritas responden berusia 10–15 tahun (86,3%) dan laki-laki (56,3%). Kategori IMT didominasi normal (52,5%) dan underweight (40,0%), sedangkan overweight (5,0%) dan obesitas I (2,5%) lebih sedikit. Pola makan berhubungan signifikan dengan IMT (p&lt;0,001), aktivitas fisik berhubungan signifikan dengan IMT (p&lt;0,001), faktor genetik berhubungan signifikan dengan IMT (p=0,022), serta lingkungan/gaya hidup berhubungan signifikan dengan IMT (p&lt;0,001). Kesimpulan: IMT santri berhubungan dengan pola makan, aktivitas fisik, predisposisi genetik, dan lingkungan/gaya hidup, sehingga intervensi berbasis institusi pesantren perlu menargetkan faktor perilaku dan dukungan lingkungan sehat.</p> Amaliah Ardhana Alman ##submission.copyrightStatement## https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-04-29 2026-04-29 7 3 April 12 20 10.66940/jmh.v7i3 April.782 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KARIES GIGI PADA PASIEN DEWASA DI RUMAH SAKIT GIGI ROYAL PRIMA http://jurnalmedikahutama.com/index.php/JMH/article/view/787 <p>Karies gigi merupakan penyakit tidak menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena berdampak pada aspek klinis, sosial, dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kebiasaan kebersihan mulut dan faktor determinan lain dengan kejadian karies gigi pada pasien dewasa di RS Gigi dan Mulut Royal Prima Medan tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 79 pasien dewasa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mencakup frekuensi dan teknik menyikat gigi, penggunaan pasta gigi berfluoride, penggunaan dental floss, konsumsi gula atau manisan, konsumsi minuman berkarbonasi, kebiasaan merokok, serta frekuensi kunjungan ke dokter gigi. Selain itu, dilakukan pemeriksaan klinis untuk menilai status karies, plak gigi, dan gingivitis. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 55,7% responden mengalami karies gigi. Analisis bivariat menunjukkan beberapa faktor yang berhubungan signifikan dengan kejadian karies, yaitu frekuensi menyikat gigi kurang dari dua kali per hari (p=0,012), teknik menyikat gigi tidak sesuai (p=0,031), tidak menggunakan pasta gigi berfluoride (p=0,041), kunjungan dokter gigi tidak rutin (p=0,018), konsumsi gula atau manisan yang sering (p=0,004), konsumsi minuman berkarbonasi (p=0,022), keberadaan plak gigi (p&lt;0,001), dan gingivitis (p=0,009). Analisis multivariat menunjukkan bahwa plak gigi merupakan faktor dominan terhadap kejadian karies (OR=3,90; 95% CI: 1,66–9,16; p=0,002). Dengan demikian, kebiasaan kebersihan mulut, konsumsi gula, dan kontrol plak merupakan faktor penting dalam pencegahan karies pada pasien dewasa.</p> Fioni, Qiu Yunqi, Florenly ##submission.copyrightStatement## https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-04-29 2026-04-29 7 3 April 21 29 10.66940/jmh.v7i3 April.787 PENDIDIKAN KESEHATAN BERBASIS AUDIO-VISUAL TERHADAP KEPATUHAN LATIHAN ROM PADA PASIEN STROKE http://jurnalmedikahutama.com/index.php/JMH/article/view/790 <p>Stroke merupakan salah satu penyebab utama kecacatan yang menimbulkan gangguan mobilitas fisik sehingga memerlukan rehabilitasi berkelanjutan. Salah satu intervensi yang dapat dilakukan adalah latihan Range of Motion (ROM), namun kepatuhan pasien dalam melakukan latihan masih rendah karena keterbatasan pengetahuan keluarga sebagai caregiver. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan keluarga dalam mendampingi pasien stroke melakukan latihan ROM melalui pendidikan kesehatan berbasis media audio-visual. Metode yang digunakan berupa ceramah interaktif, pemutaran video edukasi, demonstrasi latihan, serta pendampingan langsung kepada keluarga. Kegiatan dilaksanakan di Kampung Kebon Suuk, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung dengan melibatkan satu keluarga pasien stroke sebagai sasaran. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kepatuhan keluarga sebesar 17,9% setelah diberikan edukasi berbasis audio-visual. Keluarga mampu memahami tujuan dan langkah-langkah latihan ROM serta dapat melaksanakan latihan secara mandiri. Penggunaan media audio-visual membantu meningkatkan pemahaman karena materi dapat dilihat dan didengar secara langsung. Pendampingan lanjutan juga memperkuat kemampuan keluarga dalam melakukan latihan secara berkelanjutan. Kesimpulan kegiatan ini menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan berbasis audio-visual efektif dalam meningkatkan kepatuhan keluarga dalam pelaksanaan latihan Range of Motion (ROM) pada pasien stroke di lingkungan rumah.</p> Fanny Pebiolla ##submission.copyrightStatement## https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-04-29 2026-04-29 7 3 April 30 38 10.66940/jmh.v7i3 April.790 MANAGEMENT OF HYPERTENSION IN A 75-YEAR-OLD FEMALE PATIENT THROUGH A FAMILY MEDICINE APPROACH AT MUARA BATU PRIMARY HEALTH CENTER, NORTH ACEH REGENCY http://jurnalmedikahutama.com/index.php/JMH/article/view/793 <p>Pasien Ny. F datang ke poli lansia Puskesmas Muara Batu dengan keluhan nyeri kepala sejak 2 hari yang lalu, nyeri kepala dirasakan terutama di bagian belakang kepala, terasa seperti terikat dan kadang berdenyut, hilang timbul, dengan tingkatan nyeri sedang, dan sering muncul saat pasien beraktifitas, keluhan tersebut tanpa disertai rasa pusing. Pasien juga mengeluhkan nyeri dan terasa berat di bagian kuduk, dan juga kuduk terasa tegang, pasien juga mengeluhkan nyeri pada kedua kaki apabila sedang beraktivitas. Pasien sudah didiagnosa dengan Hipertensi selama 10 tahun, pasien mengonsumsi obat amlodipine 10 mg/hari tetapi tidak rutin. Data primer diperoleh melalui autoanamnesa dan pemeriksaan fisik dengan melakukan kunjungan rumah, mengisi family folder, dan mengisi berkas pasien. Penilaian dilakukan berdasarkan diagnosis holistik awal, proses, dan akhir kunjungan secara kuantitatif dan kualitatif. Intervensi yang dilakukan diantaranya adalah edukasi tentang hipertensi kepada keluarganya, edukasi tentang modifkasi gaya hidup dan tatalaksana penyakit tersebut serta menjelaskan komplikasi yang mungkin timbul dari penyakit pasien agar pasien berobat secara teratur dan melakukan upaya pencegahan.</p> M. Doli Reza Lubis ##submission.copyrightStatement## https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-04-29 2026-04-29 7 3 April 39 44 10.66940/jmh.v7i3 April.793 THE MANAGEMENT OF SCABIES IN A 9-MONTH-OLD MALE INFANT THROUGH A FAMILY MEDICINE APPROACH AT MUARA BATU PRIMARY HEALTH CENTER, NORTH ACEH REGENCY http://jurnalmedikahutama.com/index.php/JMH/article/view/794 <p>Pasien An. MKM datang bersama ibunya ke poli Ibu dan Anak Puskesmas Muara Batu dengan keluhan bintik kemerahan disertai kulit terkelupas, gatal, dan perih pada sela jari tangan, kaki, serta area genital sejak ±3 bulan. Keluhan memberat pada malam hari dan saat berkeringat, disertai pasien sering menggaruk, rewel, dan menangis. Awalnya muncul di sela jari tangan lalu menyebar ke bagian lain, beberapa lesi pecah akibat garukan tanpa disertai nanah. Penilaian dilakukan melalui alloanamnesa dan pemeriksaan fisik. Gambaran klinis mengarah pada infeksi kulit seperti skabies. Intervensi berupa edukasi higiene diri dan lingkungan, menghindari garukan, serta penggunaan obat topikal dan pengobatan teratur untuk mencegah penularan. Data primer dikumpulkan melalui alloanamnesis dan pemeriksaan fisik yang dilakukan saat kunjungan rumah, disertai pengisian data keluarga serta dokumentasi rekam medis pasien. Evaluasi dilakukan dengan pendekatan diagnosis holistik yang mencakup tahap awal, proses, hingga akhir kunjungan, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Intervensi yang diberikan meliputi edukasi kepada keluarga mengenai hipertensi, anjuran perubahan gaya hidup, serta penatalaksanaan penyakit.</p> Adri ##submission.copyrightStatement## https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-04-29 2026-04-29 7 3 April 45 49 10.66940/jmh.v7i3 April.794 PERAN KEDOKTERAN KELUARGA DALAM MENGATASI TANTANGAN KESEHATAN MODERN : ANALISIS KONSEPTUAL http://jurnalmedikahutama.com/index.php/JMH/article/view/795 <p style="font-weight: 400;">Pasien Ny. K datang ke poli lansia Puskesmas Muara Batu dengan keluhan sering merasa kesemutan pada kedua kakinya sejak 2 tahun dan memberat dalam 2 bulan ini. Keluhan yang dirasakan tidak menentu terkadang keluhan muncul saat pasien sedang beraktivitas dan terkadang juga muncul saat pasien sedang istirahat. pasien juga mengeluhkan badannya terasa lemas dan juga pusing jika kadar gula darahnya tinggi. Pasien tidak menggunakan insulin dan tidak rutin mengonsumsi obat Glimepiride. Data primer diperoleh melalui autoanamnesa dan pemeriksaan fisik dengan melakukan kunjungan rumah, mengisi family folder, dan mengisi berkas pasien. Penilaian dilakukan berdasarkan diagnosis holistik awal, proses, dan akhir kunjungan secara kuantitatif dan kualitatif. Intervensi yang dilakukan diantaranya adalah edukasi tentang penyebab diabetes mellitus kepada keluarganya, edukasi tentang modifkasi gaya hidup dan tatalaksana penyakit tersebut serta menjelaskan komplikasi yang mungkin timbul dari penyakit pasien agar pasien berobat secara teratur dan melakukan upaya pencegahan.</p> M.Raisya Kesha rakes ##submission.copyrightStatement## https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-04-29 2026-04-29 7 3 April 50 54 10.66940/jmh.v7i3 April.795 EFFORTS MANAGEMENT OF CUTANEUS LARVA MIGRANS IN A 27-YEARS OLD FEMALE PATIENT THROUGH A FAMILY MEDICINE APPROACH AT MUARA BATU PRIMARY HEALTH CENTER, NORTH ACEH REGENCY http://jurnalmedikahutama.com/index.php/JMH/article/view/796 <p>Pasien Ny. I, perempuan 27 tahun, datang ke Puskesmas Muara Batu dengan keluhan gatal pada perut sejak 2 bulan dan memberat 1 minggu terakhir. Keluhan berupa bintik kemerahan yang menyebar membentuk lesi berkelok (serpiginosa) disertai rasa gatal terutama malam hari. Pasien bekerja sebagai pembuat batu bata dan sering tidak menggunakan alas kaki sehingga berisiko terpapar tanah terkontaminasi, serta terdapat riwayat keluhan serupa pada anak pasien. Data primer diperoleh melalui alloanamnesis, pemeriksaan fisik, serta melakukan kunjungan rumah, mengisi family folder, dan mengisi berkas pasien. Penilaian dilakukan berdasarkan diagnosis holistik awal, proses, dan akhir kunjungan secara kuantitatif dan kualitatif. Penatalaksanaan meliputi terapi farmakologis (albendazol dan antihistamin) serta edukasi mengenai kebersihan diri, penggunaan alas kaki, dan pencegahan paparan lingkungan melalui pendekatan kedokteran keluarga.</p> Raihannisa Anjani ##submission.copyrightStatement## https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-04-29 2026-04-29 7 3 April 55 58 10.66940/jmh.v7i3 April.796 EFFORTS MANAGEMENT OF TINEA CORPORIS IN A 16-YEARS-OLD FEMALE PATIENT THROUGH A FAMILY MEDICINE APPROACH AT MUARA BATU PRIMARY HEALTH CENTER, NORTH ACEH REGENCY http://jurnalmedikahutama.com/index.php/JMH/article/view/797 <p>Pasien Nn. S, datang bersama tantenya ke Puskesmas Muara Batu dengan keluhan&nbsp; gatal pada area badan dengan bercak berbentuk lingkaran yang mulai menyebar ke punggung, selangkangan, kaki dan tangan sejak&nbsp; 7&nbsp; bulan yang lalu dan memberat dalam 2&nbsp; minggu terakhir. Bercak tampak bulat dengan tepi meninggi berwarna kemerahan berbatas tegas disertai sisik halus. Keluhan memberat saat berkeringat, terutama saat terpapar sinar matahari dan pasien sering menggaruk lesi tersebut untuk mengurangi keluhan yang dirasakan. Penilaian dilakukan&nbsp; melalui&nbsp; autoanamnesis,&nbsp; pemeriksaan&nbsp; fisik dan melakukan&nbsp; kunjungan&nbsp; rumah. Gambaran klinis mengarah pada infeksi kulit berupa tinea corporis. Intervensi yang dilakukan diantaranya adalah edukasi tentang penyebab tinea corporis kepada pasien, edukasi mengenai higiene diri dan lingkungan, hindari pengunaan barang bersama (pakaian, handuk) untuk mencegah risiko penularan, penggunaan obat topikal dan pengobatan secara teratur.</p> Yuliana ##submission.copyrightStatement## https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-04-29 2026-04-29 7 3 April 59 63 10.66940/jmh.v7i3 April.797 EFFORTS MANAGEMENT OF TINEA CORPORIS IN A 16-YEARS-OLD FEMALE PATIENT THROUGH A FAMILY MEDICINE APPROACH AT KUTA MAKMUR PRIMARY HEALTH CENTER, NORTH ACEH REGENCY http://jurnalmedikahutama.com/index.php/JMH/article/view/798 <p>Pasien An. R, usia 16 tahun datang ke Poliklinik Umum Puskesmas Kutamakmur dengan keluhan gatal pada bokong sekitar 3 bulan yang lalu dan memberat sejak 10 hari terakhir. Awalnya keluhan muncul pada bokong (pantat) kemudian secara perlahan meluas ke selangkangan. Kemuadian keluhan ini juga muncul pada area wajah. Awalnya pasien merasakan gatal dan mulai menggaruk garuk bagian yang gatal sehingga berdarah meninggalkan bercak dan dirasakan semakin meluas dan pada beberapa bagian terlihat memerah dengan batas cukup jelas dan disertai sisik halus. Keluhan ini cukup menganggu aktivitas sehari hari pasien. Pasien pernah menggunakan handuk yang sama dengan anggota keluarganya yaitu abang pasien. Abang pasien merupakan seorang siswa pesantren yang menderita keluhan yang serupa. Pada pemeriksaan fisik didpaatkan TD 110/90 mmHg, HR78 x/menit, RR 20 x/menit, T 36,8℃. Pada pemeriksaan regio facialis tampak efloresensi berupa patch hipopigmentasi dan eritematosa dengan batas tegas, disertai central healing dan tepi meninggi dengan skuama halus. Pasien diberikan terapi yaitu ketoconazole cream dan oral. Data primer diperoleh melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik dengan melakukan kunjungan rumah, mengisi <em>family folder</em>, dan mengisi berkas pasien. Penilaian dilakukan berdasarkan diagnosis holistik awal, proses, dan akhir kunjungan, Intervensi yang dilakukan diantaranya adalah edukasi mengenai pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat, menghindari faktor resiko, kepatuhan mengonsumsi obat dan menghindari komplikasi yang dapat terjadi akibat tinea corporis.</p> Regita Azzahra Nasution ##submission.copyrightStatement## https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-04-29 2026-04-29 7 3 April 64 69 10.66940/jmh.v7i3 April.798