ADAPTASI PERILAKU SAAT DAN PASCA PANDEMI COVID-19
Abstrak
Situasi pandemi COVID-19 sama sekali bukan situasi yang menguntungkan, dan cenderung menimbulkan dampak negatif seperti perasaan tidak berdaya dan putus asa akibat memburuknya situasi (secara ekonomi, fisik, mental, dll). Situasi yang muncul tidak menentu dan penuh tekanan. Masyarakat di kawasan Pecinan Glodok yang terkenal, dimana aktivitas komersial merupakan pusatnya, merasakan dampak negatif yang signifikan ini. Intervensi kebijakan pemerintah berdampak langsung pada kemampuan masyarakat untuk pulih. Akibat penerapan kebijakan pemerintah pembatasan sosial luas (PSBB) dan pembatasan pergerakan masyarakat (PPKM), masyarakat Pecinan Glodok harus mampu beradaptasi dengan situasi saat dan pasca pandemi COVID-19. Masyarakat Pecinan Glodok harus mengembangkan resiliensi untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan baru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tingkat resiliensi Pecinan Glodok pada masa dan pasca pandemi COVID-19. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif kualitatif yang bersifat deduktif. Variabel penelitiannya adalah adaptasi perilaku (respon, adaptasi, penarikan diri, penyerahan diri). Sampel penelitian berjumlah 89 orang dengan menggunakan teknik convenience sampling. Tingkat adaptif untuk meningkatkan resiliensi yang terbentuk pada masyarakat Pecinan Glodok ada yang tinggi, sedang, dan rendah. Tingkat adaptif didasarkan pada frekuensi kesamaan karakteristik atau kemampuan beradaptasi dalam penerapan protokol kesehatan dan mobilitas perjalanan. Masyarakat Pecinan Glodok cenderung memiliki tingkat adaptif sedang (saat pandemi) dan tingkat adaptif lemah (pasca pandemi).
##submission.copyrightStatement##
##submission.license.cc.by4.footer##