Potensi Antihelmintik Mangga Arumanis (Mangifera indica L.)

  • Rio Afrian Universitas Lampung
Kata Kunci: antihelmintik, mangga arumanis (Mangifera indica L.), mangiferin

Abstrak

Infeksi cacing merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit cacing. Data (WHO) World Health Organization menunjukkan 2 miliar orang di dunia telah terinfeksi cacing. Masyarakat biasanya mengatasi infeksi cacing dengan mengkonsumsi obat cacing. Program pemberantasan penyakit kecacingan menganjurkan beberapa obat antihelmintik, yaitu pirantel pamoat, mebendazol, dan albendazol. Soil-transmitted helminths (STH) spesies Ascaris lumbricoides, Ancylostoma duodenale, Necator americanus, dan Trichuris trichiura menjadi penyebab tersering infeksi pada anak-anak.  Mangga (Mangifera indica L) merupakan salah satu tanaman yang bermanfaat sebagai antihelmintik. Kulit, batang pohon mangga, dan buah mangga muda memiliki khasiat sebagai antihelmintik. Hal ini dipercaya karena adanya kandungan zat aktif penting, yaitu flavonoid, alkaloid, tanin, dan mangiferin. Flavonoid, saponin, dan alkaloid bekerja sebagai antihelmintik, yaitu dengan cara menghambat kerja enzim asetilkolinesterase. Tanin bekerja sebagai antihelmintik dengan cara merusak lapisan pelindung kutikula pada cacing. Mangiferin memiliki efek dapat mematikan larva Trichinella spiralis. Konsentrasi ekstrak 25 dan 50 mg/ml memiliki aktivitas antihelmintik yang sebanding dengan mebendazol 5 mg/ml. Hal ini terlihat dari hasil uji waktu dan jumlah kematian cacing A. galli dan R. tetragona yang tidak berbeda bermakna dengan mebendazol 5 mg/ml.

Diterbitkan
2021-01-06