Terapi Komplementer Rinitis Alergi

  • Hafshah Hafshah Universitas Lampung
Kata Kunci: rinitis alergi, terapi komplementer, hipersensitivitas

Abstrak

Rinitis alergi adalah penyakit yang berupa reaksi hipersensitivitas fase cepat pada pasien atopi yang telah tersensitisasi oleh alergen spesifik sebelumnya. Gejala yang timbul akibat rinitis alergi antara lain bersin-bersin, pruritus nasal, obstruksi aliran nafas, dan rinore. Di Indonesia, prevalensi rinitis alergi mencapai 1,5 – 12,4%. Walaupun tidak berhubungan langsung dengan kematian, namun rinitis alergi berdampak pada kualitas hidup, tidur, toleransi latihan, produktivitas, dan fungsi sosial penderitanya. Terapi komplementer adalah terapi tambahan yang menggunakan modalitas tertentu yang tidak termasuk dalam obat konvensional. Tujuan dari terapi komplementer adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan. Bahan-bahan atau metode yang dapat digunakan sebagai terapi komplementer pada rinitis alergi di antaranya adalah madu, royal jelly dan propolis, probiotik, jahe, vitamin D, vitamin E, dan acupoint herbal plaster. Selain menggunakan terapi konvensional, terapi komplementer dapat juga dipertimbangkan untuk digunakan sebagai tata laksana pada penyakit rinitis alergi.

 

Diterbitkan
2021-01-06